Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Indonesia, Demokrasi Latah atau Latah Demokrasi?

Indonesia, Demokrasi Latah atau Latah Demokrasi?             Pertama kita akan mendudukan terlebih dahulu perbedaan demokrasi latah dan latah demokrasi. Pada dasarnya demokrasi latah merupakan ungkapan bahwa konsep demokrasi yang tidak bisa selamanya memaknai dirinya sendiri. Demokrasi latah sering mengalami kawin campur dengan sistem politik lain sehingga tidak menghadirkan konsep yang paten. Sedangkan latah demokrasi lebih kepada proses pemahaman manusia yang terlalu mendikte pada teori dan pernyataan demokrasi yang ditafsirkan oleh orang luar negeri sana. Sehingga demokrasi cenderung dimaknai secara tekstual dan kurang mengakar. Dalam artian di Indonesia pada umumnya hanya menyomot nilai-nilai universal demokrasi yang cenderung common sense. Bisa jadi sebagai bentuk ekpresi cita-cita yang ingin dicapai atau memang hanya sebatas perilaku ikut-ikutan supaya bisa dianggap sebagai Negara keren terpandang dimata Negara-negara barat. Jadi perbedaanya demokrasi latah dan latah

Pilpres 2019: Dari Dramaturgi, Oligarki hingga Machiavelli

Pilpres 2019: D ari Dramaturgi, Oligarki hingga Machiavelli Anggara  Sumber Gambar: Kumparan.com Indonesia memiliki hajat akbar setiap lima tahun sekali untuk menentukan arah kemudi negara ini akan dibawa. Pemilu yang konon sebagai salah satu variabel yang menunjukan demokratis tidaknya suatu negara. Bila menurut Schumpeter demokrasi itu sebagai metode “ institusional arrangement for arriving at political decisions in which individuals acquire the power to decide by means of a competitive strunggle for people’s vote”( Schumpeter,2003:269). Dari sinilah kemudian jangan kaget apabila dalam waktu mendekat pemilu lingkungan sekitar kita mendadak ramai dengan para kandidat yang maju berkompetisi ingin memperoleh lebih 185 juta suara rakyat baik pemilu legislatif atupun ketatnya pemilihan presiden. Konsep dasar kompetisi yang dibangun melalui pemilu tersebut akhirnya juga berimplikasi pada ketatnya persaingan dengan menggunakan   berbagai strategi dan intrik politik. Tentunya